Sabtu, 30 Maret 2013

Hallo dunia!!!


Diantara beragam bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Madura merupakan salah satu bahasa daerah yang terhitung besar. Karena jumlah penuturnya berada dalam posisi keempat setelah penutur Jawa,  Melayu, dan Sunda. Dewasa ini, sekitar tiga hingga empat juta orang penutur bahasa Madura mendiami pulau Madura, sedang sisanya, sebanyak sembilan hingga sepuluh juta orang Madura tinggal di Jawa.Tersebarnya masyarakat Madura di seluruh Indonesia menyebabkan bahasa Madura menjadi bahasa yang “tidak asing di INDONESIA.” Salain faktor interaksi penutur bahasa Madura dengan penutur bahasa lain, faktor media massa terutama film, sinetron dan lagu juga turut membantu proses pengenalan bahasa ini.  Bintang film dan sinetron seperti Kadir, dan Buk Bariyah secara tidak sengaja, meskipun kadang tidak merepresentasikan bahasa Madura yang sesungguhnya. Demikian juga lagu-lagu, telah turut serta mempromosikan bahasa Madura. Lirik lagu Ancor pessena tellor, yang dinyanyikan oleh Imam S. Arifin dengan genre musik dangdut pernah demikian terkenal sehingga banyak orang menjadi paham beberapa kosakata bahasa Madura, demikian juga lagu tradisional Tondu’ Majeng yang sering dinyanyikan di even-even budaya turut pula mempromosikan bahasa Madura sebagai salah satu bahasa etnik Nusantara.
Lagu dan syair Madura merupakan salah satu wujud dari kebudayaan agung masyarakat Madura. Sayangnya, faktor keterbatasan pemahaman tentang syair lagu Madura inilah yang menjadikan syair-syair itu kurang bermakna. (Misnadin, 2007). Akibatnya, masyarakat Madura kurang bisa menghargai syair-syair tersebut dan hanya menempatkannya sebagai karya budaya yang tidak memiliki peran signifikan sama sekali dalam membangun masyarakat Madura. Padahal apabila dikaji lebih jauh, syair-syair yang terkandung dalam lagu-lagu Madura memiliki makna yang dalam karena mampu memberikan gambaran jelas tentang jati diri masyarakat Madura serta mampu membentuk simbol-simbol sosial yang dapat dipakai sebagai acuan dan pegangan hidup masyarakat Madura secara luas.
Syair-syair lagu-lagu di dalam buku Kumpulan Lagu Daerah Madura ini dibedakan dalam tiga versi yakni: (1) Lagu daerah asli Madura yang ditulis seperti aslinya, (2) Lagu rakyat gubahan, yakni lagu yang diberi lagu pemula dan lagu pengakhir dengan menyisipkan lagu rakyat itu sendiri di dalamnya, dan (3) Lagu rakyat ciptaan, yakni lagu-lagu yang diciptakan oleh para komponis Madura dengan sebagian besar selaras dengan titian nada Madura.
Bahasan
a. Syair Lagu Mampu Mempresentasikan Watak Orang Madura
Lirik lagu adalah barisan kata-kata yang menyerupai puisi yang bahasanya dipadatkan dan diberi irama. Kata yang singkat dan padat dipilih mewakili makna yang lebih luas dan banyak. Kata-kata dalam syair lagu ini mampu membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, atau secara umum dapat menimbulkan keharuan terhadap topik atau ide-ide yang sedang dilagukan.(Himmayati, 2009). Semua yang disampaikan dalam lirik lagu merupakan cermin dari perasaan yang dimiliki penggubahnya. Dari sinilah, kita dapat menyimpulkan bahwa lirik lagu, mampu menggambarkan karakter dari penciptanya. Lirik lagu juga dapat menggambarkan karakter hidup dari sebuah komunitas dimana lagu itu berasal dan sering dinyanyikan.
Di Indonesia, hampir semua budaya dan masyarakat memiliki karakter dan kekhasan yang tercermin dalam lagu-lagu daerahnya. Kekhasan tersebut disebabkan oleh perbedaan pandangan mengenai dunia, perbedaan lingkungan geografis, dan perbedaan-perbedaan sosial dan kultur setempat. Sebagai contoh, masyarakat yang budaya hidupnya adalah dengan bercocok tanam akan memiliki corak lagu yang berbeda dengan masyarakat yang budaya hidupnya bekerja sebagai nelayan. Masyarakat Madura merupakan masyarakat budaya yang memiliki corak khas. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang memiliki watak keras, ulet, gigih, menjunjung tinggi harga diri dan memiliki ikatan kekerabata yang kuat. Sebagian masyarakat Madura hidup dengan bercocok tanam dan sebagian lainnya hidup sebagai nelayan. Perwatakan, sikap, dan budaya bercocok tanam dan berlayar tersebut banyak digambarkan dalam lagu-lagu daerahnya. Berikut ini akan dibicarakan 13 lagu yang mampu merepresentasikan kehidupan sosial budaya masyarakat Madura. Lagu-lagu tersebut dianalisis untuk dipahami makna dan keterkaitannya dengan simbolitas kehidupan sosial dan  budayanya.
(1) Lir Saalir
Lir saalir, alir alir, kung! Ngare’ benta ngeba sada,
Mon motta esambi keya, Lir saalir, alir alir, kung!
Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya,
Lir saalir, alir alir, kung!
Perreng pettong pote-pote, Reng lalakon patengate….
“Lir Saalir” merupakan lagu yang biasanya dinyanyikan anak-anak ketika mereka bermain di tengah terangnya rembulan. Lagu ini berbentuk pantun nasihat yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan ini
Lagu ini memberi nasehat untuk selalu berhati-hati dalam bekerja, bertindak, bertingkah laku, berbicara, dan bersikap (Reng lalakon patengate). Lagu ini juga memberi nasehat untuk selalu berpikir dengan jernih sebelum mengambil tindakan atau membuat keputusan, karena kesalahan dalam bertindak atau memutuskan sesuatu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari (Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya).
(2) Pa’-Opa’ Iling
Pa’ o pa’ iling, Dang dang asoko randhi,
Reng towana tar ngaleleng,
Ajhara ngajhi babana cabbhi,
Le olena gheddhang bighi.
Lagu “Pa’- Opa’ Iling” biasanya dinyanyikan orang tua ketika mereka menimang atau mengajak bermain anaknya yang masih kecil.
Meskipun lagu ini hanya terdiri dari empat baris, lagu ini sarat makna. Mayoritas orang Madura beragama Islam. Sebagai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, masyarakat Madura  mewajibkan anak-anaknya untuk belajar mengaji sejak dini (Ajhar Ngajhi) agar mereka bisa pintar. Ngaji disini tidak hanya diartikan belajar membaca Al-Qur’an tetapi bisa diartikan pula sebagai kegiatan mencari ilmu-ilmu dunia bagi bekal kehidupan di masa yang akan datang
Untuk memberikan jaminan bahwa anak-anak mereka dapat dan lulus mengaji, para orang tua harus bekerja keras. Pekerjaan sekeras apapun, dan meskipun hasilnya kecil, (Reng towana tar ngaleleng, le olena gheddhang bighi) akan mereka lakukan asal anak mereka dapat mengaji dan lulus dengan baik.
(3) Caca Aghuna
Ya’ tampar ya’ tampar, mulet nyono’ ka cengkol, mon lapar yu’ nono tela sapekol, ka’ korang, ka’ korang, ka’ korang, mon coma neng sapekol, arapa ma’ pada bongsombongan, acaca ta’ mambhu ongnaongan, lebbi becce’ caca seaghuna, nyauwaghi ka jhuba’ panyana, arapa arapa, bhujung bada eroma, acaca acaca ngangghuya tatakrama, yu’ kanca kakabbhi, yu’ kanca pada a alako se aghuna.
“Caca Aghuna” (kata yang bermanfaat) berisi nasihat untuk selalu berhati-hati dalam mengatakan sesuatu. Orang akan dihormati atau dihina karena perkataannya. Kita selalu mengatakan sesuatu yang baik dan berguna karena akan menjauhkan diri dari kejelekan (lebbi becce’ acaca seaghuna, nyawuaghi ka jhuba’ panyana).
Lagu tersebut juga memberi nasehat agar kita harus selalu menggunakan tatakrama (acaca ngangghuya tatakrama) dalam berbicara, yaitu kita harus melihat siapa yang kita ajak bicara, dan tingkatan bahasa apa yang harus digunakan. Berbicara dengan orang yang lebih tua tentunya akan berbeda dengan berbicara kepada teman sebaya. Tata krama ini demikian pentingnya bagi masyarakat Madura dan karenanya sejak dini anak-anak Madura diperkenalkan dengan tingkatan bahasa, yaitu bahasa Enja’ Iya (kasar), Enggi Enten (tengah), dan Enggi Bunten (halus). Orang yang tidak mampu menggunakan tingkatan bahasa tersebut dianggap sebagai orang yang tidak tahu tatakrama dan tidak berbudaya.
(4) Les-Balesan
Arapa ma’ nojjhune ta’ nyapa, la-pola senko’ andi’ sala,
Enja’ sengko’ ta’ apa-rapa, Coma ta’ kenceng acaca,
Ma’ pas akolba’na budi arena, Sapa bara’ ro,
Namen tales pengghir paghar,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Aba’ males sengka ajhar,
Sapa bara’ ro, Mano’ keddhi’ ca’-lonca’an,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Mon ta’ andi’ ta’-penta’an
“Les-Balesan” (saling membalas) Lirik lagu ini mengandung ajaran dan nasihat yang patut diikuti masyarakat Madura. Lagu di atas menyarankan kepada para anak muda untuk selalu rajin mencari ilmu agar tidak menyesal kelak ketika mereka sudah tua (Ta’ enga’ lamba’ ro, Aba’ males sengka ajhar). Dengan belajar yang tekun, kelak mereka akan menjadi sukses dan mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak perlu mencari dan meminjam uang kesana kemari hanya untuk makan (Mon ta’ andi’ ta’-penta’an).
Lagu tersebut memberi nasehat pada masyarakat Madura untuk mengedepankan semangat kekeluargaan, saling membantu dan bergotong royong dalam mengatasi persoalan hidup. Kita juga disarankan untuk tidak melupakan pertolongan orang lain. Kita tidak boleh hanya meminta pertolongan tetapi juga harus mampu memberikan pertolongan (Ta’ enga’ lamba’ ro, Mon ta’ andi’ ta’ penta’an).  Prinsip mutualisme dalam kehidupan haruslah dilaksanakan.
(5) Tondu’ Majang
Ngapote wa’ lajarra etangale
Semajang tantona la padha mole
Mon tangghu dari ambet dha jhalanna
Mase bannya’a ongghu ollena.
O… mon ajhelling odi’na oreng majangan
Abhantal omba’ sapo’ angen salanjhangah
Reng majang bannya’ ongghu bhabhajana
Kabhilang alako bhandha nyabana.
Lagu “Tondu’ Majang” (datang dari melaut) di atas menceritakan kehidupan nelayan Madura. Kehidupan mereka digambarkan sangat keras karena harus bertemu banyak mara bahaya di laut (atemmo bhabhaja). Mereka juga harus mempertaruhkan nyawa (bhandha nyaba) untuk menghidupi keluarga yang ditinggalkan di rumah. Kadang untuk mendapat tangkapan ikan yang banyak mereka harus tinggal berhari-hari di perahu sehingga mereka menjadi terbiasa dengan laut dan mengandaikan ombak sebagai bantal dan angin sebagai selimut mereka (Abhantal omba’ sapo’ angen).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar