Diantara
beragam bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Madura merupakan salah satu
bahasa daerah yang terhitung besar. Karena jumlah penuturnya berada dalam
posisi keempat setelah penutur Jawa, Melayu, dan Sunda. Dewasa ini,
sekitar tiga hingga empat juta orang penutur bahasa Madura mendiami pulau
Madura, sedang sisanya, sebanyak sembilan hingga sepuluh juta orang Madura
tinggal di Jawa.Tersebarnya masyarakat Madura di seluruh Indonesia menyebabkan
bahasa Madura menjadi bahasa yang “tidak asing di INDONESIA.” Salain faktor
interaksi penutur bahasa Madura dengan penutur bahasa lain, faktor media massa
terutama film, sinetron dan lagu juga turut membantu proses pengenalan bahasa
ini. Bintang film dan sinetron seperti Kadir, dan Buk Bariyah secara
tidak sengaja, meskipun kadang tidak merepresentasikan bahasa Madura yang
sesungguhnya. Demikian juga lagu-lagu, telah turut serta mempromosikan bahasa
Madura. Lirik lagu Ancor pessena tellor, yang dinyanyikan oleh Imam S. Arifin
dengan genre musik dangdut pernah demikian terkenal sehingga banyak orang
menjadi paham beberapa kosakata bahasa Madura, demikian juga lagu tradisional
Tondu’ Majeng yang sering dinyanyikan di even-even budaya turut pula
mempromosikan bahasa Madura sebagai salah satu bahasa etnik Nusantara.
Lagu
dan syair Madura merupakan salah satu wujud dari kebudayaan agung masyarakat
Madura. Sayangnya, faktor keterbatasan pemahaman tentang syair lagu Madura
inilah yang menjadikan syair-syair itu kurang bermakna. (Misnadin, 2007).
Akibatnya, masyarakat Madura kurang bisa menghargai syair-syair tersebut dan
hanya menempatkannya sebagai karya budaya yang tidak memiliki peran signifikan
sama sekali dalam membangun masyarakat Madura. Padahal apabila dikaji lebih
jauh, syair-syair yang terkandung dalam lagu-lagu Madura memiliki makna yang
dalam karena mampu memberikan gambaran jelas tentang jati diri masyarakat
Madura serta mampu membentuk simbol-simbol sosial yang dapat dipakai sebagai
acuan dan pegangan hidup masyarakat Madura secara luas.
Syair-syair
lagu-lagu di dalam buku Kumpulan Lagu Daerah Madura ini dibedakan dalam tiga
versi yakni: (1) Lagu daerah asli Madura yang ditulis seperti aslinya, (2) Lagu
rakyat gubahan, yakni lagu yang diberi lagu pemula dan lagu pengakhir dengan
menyisipkan lagu rakyat itu sendiri di dalamnya, dan (3) Lagu rakyat ciptaan,
yakni lagu-lagu yang diciptakan oleh para komponis Madura dengan sebagian besar
selaras dengan titian nada Madura.
Bahasan
a. Syair Lagu Mampu Mempresentasikan Watak Orang Madura
a. Syair Lagu Mampu Mempresentasikan Watak Orang Madura
Lirik lagu adalah barisan kata-kata yang menyerupai puisi yang
bahasanya dipadatkan dan diberi irama. Kata yang singkat dan padat dipilih
mewakili makna yang lebih luas dan banyak. Kata-kata dalam syair lagu ini mampu
membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas,
atau secara umum dapat menimbulkan keharuan terhadap topik atau ide-ide yang
sedang dilagukan.(Himmayati, 2009). Semua yang disampaikan dalam lirik lagu
merupakan cermin dari perasaan yang dimiliki penggubahnya. Dari sinilah, kita
dapat menyimpulkan bahwa lirik lagu, mampu menggambarkan karakter dari
penciptanya. Lirik lagu juga dapat menggambarkan karakter hidup dari sebuah
komunitas dimana lagu itu berasal dan sering dinyanyikan.
Di
Indonesia, hampir semua budaya dan masyarakat memiliki karakter dan kekhasan
yang tercermin dalam lagu-lagu daerahnya. Kekhasan tersebut disebabkan oleh
perbedaan pandangan mengenai dunia, perbedaan lingkungan geografis, dan
perbedaan-perbedaan sosial dan kultur setempat. Sebagai contoh, masyarakat yang
budaya hidupnya adalah dengan bercocok tanam akan memiliki corak lagu yang
berbeda dengan masyarakat yang budaya hidupnya bekerja sebagai nelayan. Masyarakat
Madura merupakan masyarakat budaya yang memiliki corak khas. Mereka dikenal sebagai
masyarakat yang memiliki watak keras, ulet, gigih, menjunjung tinggi harga diri
dan memiliki ikatan kekerabata yang kuat. Sebagian masyarakat Madura hidup
dengan bercocok tanam dan sebagian lainnya hidup sebagai nelayan. Perwatakan,
sikap, dan budaya bercocok tanam dan berlayar tersebut banyak digambarkan dalam
lagu-lagu daerahnya. Berikut ini akan dibicarakan 13 lagu yang mampu
merepresentasikan kehidupan sosial budaya masyarakat Madura. Lagu-lagu tersebut
dianalisis untuk dipahami makna dan keterkaitannya dengan simbolitas kehidupan
sosial dan budayanya.
(1) Lir Saalir
Lir saalir, alir alir, kung! Ngare’ benta ngeba sada,
Mon motta esambi keya, Lir saalir, alir alir, kung!
Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya,
Lir saalir, alir alir, kung!
Perreng pettong pote-pote, Reng lalakon patengate….
(1) Lir Saalir
Lir saalir, alir alir, kung! Ngare’ benta ngeba sada,
Mon motta esambi keya, Lir saalir, alir alir, kung!
Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya,
Lir saalir, alir alir, kung!
Perreng pettong pote-pote, Reng lalakon patengate….
“Lir
Saalir” merupakan lagu yang biasanya dinyanyikan anak-anak ketika mereka
bermain di tengah terangnya rembulan. Lagu ini berbentuk pantun nasihat yang
sangat berguna dalam menjalani kehidupan ini
Lagu ini memberi nasehat untuk selalu berhati-hati dalam bekerja, bertindak, bertingkah laku, berbicara, dan bersikap (Reng lalakon patengate). Lagu ini juga memberi nasehat untuk selalu berpikir dengan jernih sebelum mengambil tindakan atau membuat keputusan, karena kesalahan dalam bertindak atau memutuskan sesuatu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari (Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya).
Lagu ini memberi nasehat untuk selalu berhati-hati dalam bekerja, bertindak, bertingkah laku, berbicara, dan bersikap (Reng lalakon patengate). Lagu ini juga memberi nasehat untuk selalu berpikir dengan jernih sebelum mengambil tindakan atau membuat keputusan, karena kesalahan dalam bertindak atau memutuskan sesuatu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari (Tada’ kasta neng e ada’, Ghi’ kasta e budi keya).
(2) Pa’-Opa’ Iling
Pa’ o pa’ iling, Dang dang asoko randhi,
Reng towana tar ngaleleng,
Ajhara ngajhi babana cabbhi,
Le olena gheddhang bighi.
Pa’ o pa’ iling, Dang dang asoko randhi,
Reng towana tar ngaleleng,
Ajhara ngajhi babana cabbhi,
Le olena gheddhang bighi.
Lagu “Pa’- Opa’ Iling” biasanya dinyanyikan orang tua ketika
mereka menimang atau mengajak bermain anaknya yang masih kecil.
Meskipun lagu ini hanya terdiri dari empat baris, lagu ini sarat makna. Mayoritas orang Madura beragama Islam. Sebagai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, masyarakat Madura mewajibkan anak-anaknya untuk belajar mengaji sejak dini (Ajhar Ngajhi) agar mereka bisa pintar. Ngaji disini tidak hanya diartikan belajar membaca Al-Qur’an tetapi bisa diartikan pula sebagai kegiatan mencari ilmu-ilmu dunia bagi bekal kehidupan di masa yang akan datang
Meskipun lagu ini hanya terdiri dari empat baris, lagu ini sarat makna. Mayoritas orang Madura beragama Islam. Sebagai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, masyarakat Madura mewajibkan anak-anaknya untuk belajar mengaji sejak dini (Ajhar Ngajhi) agar mereka bisa pintar. Ngaji disini tidak hanya diartikan belajar membaca Al-Qur’an tetapi bisa diartikan pula sebagai kegiatan mencari ilmu-ilmu dunia bagi bekal kehidupan di masa yang akan datang
Untuk memberikan jaminan bahwa anak-anak mereka dapat dan lulus
mengaji, para orang tua harus bekerja keras. Pekerjaan sekeras apapun, dan
meskipun hasilnya kecil, (Reng towana tar ngaleleng, le olena gheddhang bighi)
akan mereka lakukan asal anak mereka dapat mengaji dan lulus dengan baik.
(3) Caca Aghuna
Ya’ tampar ya’ tampar, mulet nyono’ ka cengkol, mon lapar yu’ nono tela sapekol, ka’ korang, ka’ korang, ka’ korang, mon coma neng sapekol, arapa ma’ pada bongsombongan, acaca ta’ mambhu ongnaongan, lebbi becce’ caca seaghuna, nyauwaghi ka jhuba’ panyana, arapa arapa, bhujung bada eroma, acaca acaca ngangghuya tatakrama, yu’ kanca kakabbhi, yu’ kanca pada a alako se aghuna.
Ya’ tampar ya’ tampar, mulet nyono’ ka cengkol, mon lapar yu’ nono tela sapekol, ka’ korang, ka’ korang, ka’ korang, mon coma neng sapekol, arapa ma’ pada bongsombongan, acaca ta’ mambhu ongnaongan, lebbi becce’ caca seaghuna, nyauwaghi ka jhuba’ panyana, arapa arapa, bhujung bada eroma, acaca acaca ngangghuya tatakrama, yu’ kanca kakabbhi, yu’ kanca pada a alako se aghuna.
“Caca Aghuna” (kata yang bermanfaat) berisi nasihat untuk selalu
berhati-hati dalam mengatakan sesuatu. Orang akan dihormati atau dihina karena
perkataannya. Kita selalu mengatakan sesuatu yang baik dan berguna karena akan
menjauhkan diri dari kejelekan (lebbi becce’ acaca seaghuna, nyawuaghi ka
jhuba’ panyana).
Lagu tersebut juga memberi nasehat agar kita harus selalu
menggunakan tatakrama (acaca ngangghuya tatakrama) dalam berbicara, yaitu kita
harus melihat siapa yang kita ajak bicara, dan tingkatan bahasa apa yang harus
digunakan. Berbicara dengan orang yang lebih tua tentunya akan berbeda dengan
berbicara kepada teman sebaya. Tata krama ini demikian pentingnya bagi
masyarakat Madura dan karenanya sejak dini anak-anak Madura diperkenalkan
dengan tingkatan bahasa, yaitu bahasa Enja’ Iya (kasar), Enggi Enten (tengah),
dan Enggi Bunten (halus). Orang yang tidak mampu menggunakan tingkatan bahasa
tersebut dianggap sebagai orang yang tidak tahu tatakrama dan tidak berbudaya.
(4) Les-Balesan
Arapa ma’ nojjhune ta’ nyapa, la-pola senko’ andi’ sala,
Enja’ sengko’ ta’ apa-rapa, Coma ta’ kenceng acaca,
Ma’ pas akolba’na budi arena, Sapa bara’ ro,
Namen tales pengghir paghar,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Aba’ males sengka ajhar,
Sapa bara’ ro, Mano’ keddhi’ ca’-lonca’an,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Mon ta’ andi’ ta’-penta’an
Arapa ma’ nojjhune ta’ nyapa, la-pola senko’ andi’ sala,
Enja’ sengko’ ta’ apa-rapa, Coma ta’ kenceng acaca,
Ma’ pas akolba’na budi arena, Sapa bara’ ro,
Namen tales pengghir paghar,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Aba’ males sengka ajhar,
Sapa bara’ ro, Mano’ keddhi’ ca’-lonca’an,
Ta’ enga’ lamba’ ro, Mon ta’ andi’ ta’-penta’an
“Les-Balesan” (saling membalas) Lirik lagu ini mengandung ajaran
dan nasihat yang patut diikuti masyarakat Madura. Lagu di atas menyarankan
kepada para anak muda untuk selalu rajin mencari ilmu agar tidak menyesal kelak
ketika mereka sudah tua (Ta’ enga’ lamba’ ro, Aba’ males sengka ajhar). Dengan
belajar yang tekun, kelak mereka akan menjadi sukses dan mampu secara ekonomi,
sehingga mereka tidak perlu mencari dan meminjam uang kesana kemari hanya untuk
makan (Mon ta’ andi’ ta’-penta’an).
Lagu tersebut memberi nasehat pada masyarakat Madura untuk
mengedepankan semangat kekeluargaan, saling membantu dan bergotong royong dalam
mengatasi persoalan hidup. Kita juga disarankan untuk tidak melupakan
pertolongan orang lain. Kita tidak boleh hanya meminta pertolongan tetapi juga
harus mampu memberikan pertolongan (Ta’ enga’ lamba’ ro, Mon ta’ andi’ ta’
penta’an). Prinsip mutualisme dalam kehidupan haruslah dilaksanakan.
(5) Tondu’ Majang
Ngapote wa’ lajarra etangale
Semajang tantona la padha mole
Mon tangghu dari ambet dha jhalanna
Mase bannya’a ongghu ollena.
O… mon ajhelling odi’na oreng majangan
Abhantal omba’ sapo’ angen salanjhangah
Reng majang bannya’ ongghu bhabhajana
Kabhilang alako bhandha nyabana.
Ngapote wa’ lajarra etangale
Semajang tantona la padha mole
Mon tangghu dari ambet dha jhalanna
Mase bannya’a ongghu ollena.
O… mon ajhelling odi’na oreng majangan
Abhantal omba’ sapo’ angen salanjhangah
Reng majang bannya’ ongghu bhabhajana
Kabhilang alako bhandha nyabana.
Lagu “Tondu’ Majang” (datang dari melaut) di atas menceritakan
kehidupan nelayan Madura. Kehidupan mereka digambarkan sangat keras karena
harus bertemu banyak mara bahaya di laut (atemmo bhabhaja). Mereka juga harus
mempertaruhkan nyawa (bhandha nyaba) untuk menghidupi keluarga yang
ditinggalkan di rumah. Kadang untuk mendapat tangkapan ikan yang banyak mereka
harus tinggal berhari-hari di perahu sehingga mereka menjadi terbiasa dengan
laut dan mengandaikan ombak sebagai bantal dan angin sebagai selimut mereka
(Abhantal omba’ sapo’ angen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar